Entri Populer

Rabu, 23 November 2011

Wacana


  BAB I
PENDAHULUAN

            Lingkungan memiliki tataran bahasa yang lebih luas dari kalimat (rentetan kalimat-paragraf) yang disebut wacana. Istilah wacana merupakan istilah yang muncul sekitar tahun 1970-an di Indonesia (dari bahasa Inggris discourse). Wacana memuat rentetan kalimah yang berhubungan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan informasi. Proposisi  adalah konfigurasi makna yang menjelaskan isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan statement (pernyataan kalimat).
            Satuan yang minimum bagi wacana adalah apa yang disebut klausa. Klausa berfungsi sebagai penyampai pesan, memiliki struktur yang disusun berdasarkan kaidah (pola urutan) sehingga komunikatif. Para ahli berpendapat bahwa wacana merupakan klaster kalimat yang memiliki satu kesatuan informasi yang komunikatif.  Sampai akhir dasawarsa enam puluhan analisis wacana belum  mendapat perhatian dari para ahli bahasa. Analisis wacana mencapai tahap perkembangannya baru pada tahun 1970-an. Firth (1935) adalah ahli bahasa yang pertamakali menganjurkan studi wacana, melalui gagasannya bahwa konteks situasi perlu diteliti para linguis karena studi bahasa dan kinerja bahasa ada pada konteks.
            Studi bahasa meliputi gramatika dan makna. Gagasan Firth tentang makna (semantik) berdasarkan konteks yang dianggap sebagai hasil suatu perangkat kulminasi kontekstual dalam konteks budaya suatu masyarakat (firth di dalam Kafferty, 1982 : 2). Pemahaman dan anjuran firth kemudian dilupakan orang dan padas saat itu tidak berkembang karena pengaruh Bloomfield, yang lebih berpengaruh kepada ahli-ahli bahasa sejak tahun 1933 dan mendominasi penelitian bahasa pada zaman itu. Dalam studi wacana, kita tidak bisa hanya menelaah bagian-bagian bahasa sebagai unsur kalimat (property), tetapi juga harus mempertimbangkan unsur kalimat sebagai bagian dari kesatuan yang utuh. Untuk menganalisis wacana, perlu dipahami makna wacana itu sendiri.

BAB II
WACANA

2.1    Pengertian Wacana
Para ahli bahasa umumnya berpendapat sama tentang wacana dalam hal satuan bahasa yang terlengkap (utuh) seperti novel, buku, artikel. Pemahaman bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan tertinggi dalam hierarki gramatikal, adalah pemahaman yang berasal dari pernyataan, wacana (diseourse) adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini di realisasikan dalam bentuk karangan yang utuh berupa novel, buku seri, seri ensiklopedi, dsb, paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Di jelaskan bahwa wujud wacana dapat dilihat dari segi tataran bahasa, dari mulai tataran yang terkecil “kata” dapat memuat makna yang utuh, dilihat dari informasi yang didukungnya.
Hubungan antar unsur yang terbentuk wacana dinyatakan oleh Moeliono, dkk, (1988), adalah yang disebut rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu atau wacana adalah rentetan kalimat-kalimat itu atau wacana adalah rentetan  kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proporsisi yang satu dengan proporsi yang lain, membentuk satu kesatuan. Pemahaman wacana yang menekankan unsur keterkaitan kalimat-kalimat, disamping hubungan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan. Pemahaman wacana yang  menekankan unsur keterkaitan kalimat-kalimat, disamping hubungan proporsisi sebagai landasan berpijak, mengisyaratkan konfigurasi maka yang menjelaskan isi komunikasi pembicaraan sangat berperan dalam informasi yang ada pada wacana. Kridalaksana, 1984

2.2    Jenis Wacana
Jenis wacana dapat dikaji dari segi eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara pemaparan, dan je nis pemakaian. Menurut realitasnya wacana merupakan verba dan  non verba sebagai media komunikasi berwujud tutran lisan dan tulis, sedangkan dari segi paparan, kita dapat memperoleh jenis wacana yang di sebut naratif, deskriptif, prosedural, ekspositori dan hortatori, dari jenis pemakaian kita akan mendapatkan wujud monolog (satu orang penutur), dialog (dua orang penutur), dan polllog (lebih dari dua orang penutur).

2.2.1        Realitas Wacana
Realitas wacana dalam hal ini adalah eksistyensi wacana yang berupa verba dan non verba. Rangkaian kebahasaan verba atau language exist (kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya; non verba atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa (yakni rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna) (bahasa isyarat) berupa isyarat  dengan gerak-gerik sekitar kepala atau muka dan isyarat yang ditunjukan melalui gerak anggota tubuh selain kepala.

2.2.2        Media Komunikasi
Wujud wacana sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran (tuturan) lisan dan tulisan. Sebagai media komunikasi wacana lisan dan tulis. Sebagai media komunikasi wacana lisan wujudnya dapat berupa sebuah percakapan lengkap dari awal sampai akhir dan satu penggalan ikatan percakapan (rangkaian percakapan yang lengkap biasanya memuat gambaran situasi, maksud).

2.2.3        Pemaparan Wacana
Pemaparan wacana ini sama dengan tinjauan isi, cara penyusunan dan sifatnya, berdasarkan pemaparan, wacana meliputi wacana : naratif, prosedural, hortatori, ekspositori dan deskriptif.

Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan hal atau kejadian (peristiwa) memulai penonjolan pelaku. Isi wacana ditunjukan kearah memperluas pengetahuan pendengar dan pembaca.
Wacana hortatori adealah tuturan yang berisi ajakan atau nasehat. Tuturan dapat pula berupa ekspresi yang memperkuat keputusan untuk lebih meyakinkan. Wacana ini digunakan untuk mempengaruhi pendengar atau pembaca agar terpikat akan suatu pendapat yang dikemulkakan. Contohnya khotbah, pidato tentang politik.
Wacana ekspositori bersifat menjelaskan sesuatu. Biasanya berisi pendapat atau simpulan dari sebuah pandangan. Pada umumnya ceramah, pidato, artikel pada majalah atau surat kabar.
Wacana deskriptif berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan. Wacana ini bertujuan mencapai penghayatan yang imajinatif terhadap sesuatu sehingga pendengar atau pembaca seolah-olah merasakan atau mengalami sebdiri secara tidak langsung.
Wacana epistolari digunakan di dalam surat-surat, dengan sistem dan bentuk tertentu. Dimulai dengan alinea pembuka, isi, penutup.



BAB III
SUBPOKOK WACANA

3.1    Kalimat
Kalimat adalah bagian dari wacana, yang berarti wacana ini memiliki beberapa kalimat yang sambung menyambung satu sama lainnya. Jadi kalimat adalah kesatuan ejaan yang menggunakan konsep pikiran dan perasaan.
Kalimat memiliki bagian-bagian lagi diantaranya yaitu :
1.      Anafora, yaitu pengulangan sebuah kata atau lebih pada awal beberapa kalimat / larik yang berturut-turut dengan maksud mencapai efek kesedepapan bahasa atau keefektifan bahasa.
Contoh :
Pak Jamal rumahnya pinggir jalan
Pak Jamal dan –nya merupakan anafora
2.      Deiksis 
Deksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya ditafsirkan acuannya dengan memperhatikan situasi pembicara. Deiksis dapat berupa lokasi (tempat), identitas orang, objek, peristiwa, proses atau kegioatan yang sedang dibicarakan atau yang diacu dalam hubungan dimensi ruang pada saat di tuturkan oleh pembicara atau kawan  bicara.
(1)   Kamu ibunya Susi
(2)   Ini orang yang saya cari
(3)   Maria jatuh cinta pada temannya yang tinggal di sana.
(4)   Sekarang pukul 11.20
Unsur yang disebut deiksis pada (1)’ kamu; (2)’Ini (3) Maria, -nya’ (temannya), di sana .4 sekarang. Pada (1), kalimat itu baru benar, bila pesapa benar-benar ibu susi, pada (2) mengacu pada sumber (ini’) Maria pada kenyataanya jatuh cinta pada temannya dengan lokasi yang dilakukan pembicara, pada (4) waktu bicara benar-benar pukul 11.20. secara persona kamu! , (2) “Maria” (nama diri), nya’ (pada temannya mengacu pada teman
 Maria), disana (pronomina demonstratif menunjuk lokasi). (4)’sekarang mengacu pada waktu (temporal).
(Prof. Dr. Hj. T.Fatimah Djajasudarwa : 59).

3.2    Paragraf
           Paragraf merupakan perkembangan dari kalimat. Jadi, pengertian paragraf lebih luas daripada pengertian kalimat. Tetapi kedua-duanya merupakan bagian dari wacana.
           Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989 : 648), paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan dimulai penulisannya dengan garis baru). Jadi, paragraf merupakan gabungan kalimat yang mengemukakan satu gagasan atau satu topik pikiran yang diperjelas oleh kalimat penjelas (soplemen). Pikiran utama daalm sebuah paragraf dapat dinyatakan dengan satuan kalimat atau beberapa kalimat, sehingga pikiran utama dalam sebuah paragraf merupakan topik yang bersangkutan.

3.2.1        Syarat-syarat Paragraf
            Paragraf yang baik harus memiliki beberapa konsep, seperti berikut:
a.       Kesatuan paragraf (kohesi)
b.      Kepaduan paragraf (koherensi)

a.       Kesatuan paragraf (kohesi)
            Bila kita menyusun sebuah paragraf, susunlah kalimat itu secara cermat, sehingga susunan kalimat itu merupakan kesatuan paragraf yang (kohesi). Sehingga isi paragraf dapat dipahami oleh si pembaca/penyimak.
            Kepaduan (kohesi) paragraf dapat dibentuk dengan bantuan :
-  Kata ganti (pronomina)
  Kata ganti terdiri dari :
·             Saya, aku, kita, kami
·             Substitusi (pengganti) yang merupakan pengganti unsur lain, dapat bersifat nominal, verbal, klausa atau campuran, misalnya : sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, dan begitu.
Contoh : saya dan adik memiliki kesenangan sama,  kami selalu rukun, demikian  tetangga berkata. Pendapat tetangga seperti itu,  saya pelihara baik-baik. Adik pun melakukan hal yang sama.
·             Elipsis yaitu peniadaan atau pelepasan sesuatu yang ada tetapi tidak ditulis atau diucapkan.
Contoh : Adiknya pandai, tetapi kakanya sebaliknya.
·             Konjungsi, konjungsi dipergunakan untuk menggolongkan kata dengan  kata, frase dengan frase, kalusa dengan  klausa, atau kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf.
Konjungsi dapat digolongkan menjadi :
-          Konjungsi adversatif : tetapi, namun, dsb
-          Konjungsi klausa : sebab, karena, dsb
-          Konjungsi koordinatif : dan, atau, tetapi, dsb
-          Konjungsi naratif : baik, maupun, entah, dsb
-          Konjungsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa, dsb
-          Konjungsi temporal : sebelum, sesudah, selama, dsb. 

b.      Kepaduan paragraf (koherensi)
      Koherensi atau kepadan paragraf merupakan hubungan logis antara kalimat-kalimat dalam satu paragraf atau wacana. Hubungan logis antara kalimat itu dapat dinyatakan, dengan :
·         Hubungan tambahan : lebih tinggi, selanjutnya, tambahan pula, disamping itu, lalu, berikutnya, demikian pula, begitu juga, lagi pula.
·         Hubungan pertentangan: akan tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya.
·         Hubungan perbandingan: sama dengan itu, dalam hal yang demikian, sehubungan dengan
·         Hubungan akibat : oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh karena itu, maka
·         Hubungan tujuan : untuk itu, untuk maksud itu
·         Hubungan singkat : singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada umumnya, dengan kata lain, sebagai simpulan.
·         Hubungan waktu : sementara itu, segera setelah itu, beberapa saat kemudian.

3.2.2        Pembagian Paragraf Menurut Jenisnya
          Secara tradisional pembagian paragraf menurut jenisnya dalam  sebuah paragraf atau wacana biasanya terdapat tiga macam yaitu :
1.      Paragraf pembuka
          Paragraf pembuka sesuai dengan namanya, paragraf pembuka biasanya ditempatkan di awal paragraf atau wacana.
          Paragraf pembuka harus dapat menarik perhatian ata minat pembaca/penyimak serta harus dapat menghubungkan pikiran pembaca pada masalah berikutnya.
2.      Paragraf Pengembang
          Paragraf pengembang berada di tengah (diantara ) paragraf pembuka dengan  paragraf penutup, dan isi paragraf pengembang inti persoalan yang sedang atau akan dikemukakan.
          Paragraf ini dikembangkan dengan cara eksposisi, deskripsi, narasi, atau dengan cara argumentasi. 
3.      Paragraf penutup
          Paragraf penutup biasanya ditempatkan di akhir paragraf.  Paragraf penutup berisi simpulan semua persoalan yang telah dipaparkan pada bagian-bagian terdahulu (kalimat-kalimat terdahulu).




3.2.3        Pembagian Paragraf menurut Penempatan Topik 
          Pembagian paragraf menurut penempatan topiknya ada empat macam, yaitu :
1.      Paragraf deduksi yaitu paragraf yang topiknya atau kalimat utamanya diawal paragraf.
2.      Paragraf induktif yaitu paragraf yang letak topiknya atau kalimat utamanya disimpan diakhir paragraf.
3.      Paragraf naratif, paragraf naratif tidak memiliki kalimat utama atau topik. Kalimat utamanya /topiknya ada diseluruh paragraf. Jadi si pembicara yang dapat menyimpulkan isi paragraf ini.
4.      Paragraf campuran yaitu paragraf gabungan paragraf induktif dengan paragraf deduktif. Kalimat utamanya atau topik pertama disimpan diawal paragraf merupakan inti pembicaraan, kalimat yang ditengah  merupakan suplemen, sedangkan kalimat yang terakhir merupakan simpulan atau penegasan yang telah diuraikan terlebih dahulu.

2.3.4        Pembagian paragraf berdasarkan penawaran
          Pembagian paragraf berdasarkan penawaran topiknya ada lima macam yaitu :
1.      Paragraf deskriptif sering disebut juga paragraf melukiskan, karena isi paragraf ini melukiskan sesuatu apa yang dilihta, dirasa dan juga bisa apa yang diraba.
2.      paragraf ekspositoris (Eksposisi, paparan), karena isi paragraf ini memaparkan sesuatu atau laporan. Susunan paragraf eksposisi atau paparan ada dua hal yaitu sifat penjelasan atau keterangan yang akan kita berikan, dan tujuan yang akan kita capai.
3.      Paragraf argumentasi (agrumentasi) sering juga dimasukan ke dalam paragraf persuasif, karena paragraf ini berisi membujuk atau mempengaruhi para pembaca atau penyimak terhadap suatu objek. Makna argumen ialah alasan. Jadi argumentasi itu pemberian alasan yang kuat dan meyakinkan.
4.      Paragraf persuasif, adalah paragraf yang mengetengahkan bujukan secara halus supaya yang membaca atau penyimak dapat dipengaruhinya. Paragraf ini mengajak atau membujuk dengan  cara memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan.
      Ciri-cirinya : -  Jelas, tertib dan teratur
-      hidup cerah dan bersemangat
-      dramatik menggugah perasaan
-      alasan yang kuat 

3.3    Ejaan
           Ejaan merupakan alat untuk memahami sebuah tulisan (karangan), bila tidak ada ejaan dalam sebuah  bahasa kita akan sulit untuk memahami atau menerjemahkan suatu makna paragraf atau pun wacana dalam sebuah artikel. Oleh karena itu, ejaan sangat diperlukan kehadirannya di dalam sebuah tulisan atau karangan.
           Ejaan ialah aturan melambangkan bunyi ujaran yang tertuang dalam kata, kalimat /wacana dalam bentuk tulisan serta penggunaan tanda baca.

3.3.1        Penulisan Hurup
            Hurup yang digunakan dalam bahasa Indonesia yaitu alfabet (a sampai z) cara pengucapannya disesuaikan dengan pedoman EYD. Dalam bahasa Indonesia mengenal juga vokal rangkap atau diftong yaitu biasa ditulis au, ai dan oi. Seperti dalam kata kerbau  diucapkan /kerbow/, kedai diucapkan /kedey/ dan amboi  diucapkan /amboy/.
            Dalam bahasa Indonesia juga mengenal konsonan rangkap seperti nk dalam kata bank diucapkan bang. Selain itu ada lagi ng, ny, sy, kh. Penggunaan kalimatnya dalam kata terbang,  nyonya, masyarakat, khawatir.



3.3.2        Lafal, Singkatan dan Kata
        Singkatan kata adalah kependekan dari beberapa kata dengan maksud memudahkan cara pengucapan dan mempercepat penulisannya.

3.3.3        Pemenggalan (penyukuan) kata
Pemenggalan kata artinya ialah sebuah kata yang dipenggal atau dipotong-potong berdasarkan suku katanya, misalnya kata lari dipenggal menjadi la-ri,  sehingga pemenggalan kata disebut juga penyukuan kata. Apabila memenggal kata kita gunakan tanda hubung ( -) diantara suku-suku kata yang kita penggal, menempatkan tanda hubung harus sejajar dengan  suku kata yang dipenggal setelah spasi. Jangan menggunakan tanda hubung di bawah suku kata yang dipenggal.
Perlu diketahui suku kata yang memiliki satu fonem jangan dipenggal, sehingga tidak terjadi diujung maupun dipangkal baris tidak terdapat satu fonem. Bila akan memenggal  kata jadian, ceraikan dahulu imbuhan dengan kata dasarnya. Baru setelah itu kita penggal kata jadian itu.
Bila kata-kata yang berasal dari dua unsur yang berbeda artinya, cara pemenggalannya ada 2 tahap, tahap pertama kata tersebut pisah dulu unsur-unsurnya. Tahap kedua unsur-unsur kata itu baru dipenggal berdasarkan suku katanya.
            Misalnya :
            Sentimeter : senti-meter= sen-ti-me-ter
            Kilogram : kilo-gram= ki-lo-gram
            Biofarma : bi-o-far-ma

3.3.4        Pemakaian Huruf Kapital (besar) dan Huruf miring
Pemakaian huruf kapital
Pemakaian huruf kapital sebagai berikut :
a)      Huruf kapital digunakan hurup pertama pada awal kalimat
Misal : Mereka berangkat tadi siang
b)      Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama petikan langsung. Misal :
Ayah bertanya, “Kapan mau pulang?”
“Kemarin engkau terlambat,” kata Pak Guru”
c)      Huruf kapital digunakan dalam ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan, Kitab Suci, Kata ganti Tuhan.
Misal :
Ya, Allah lindungilah keluargaku dari marabahaya
Berkat karunia-Nya kami bisa menyelesaikan tugas ini.
d)     Hurup kapital digunakan pada hurup awal nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misal :
-      Putra Nabi Muhammad adalah Siti Patimah
-      Tini adalah putri Haji Somad
e)      Huruf kapital digunakan pada hurup pertama nama jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi dan nama tempat.
Misal :
-      Kemarin Presiden Megawati Sukarno Putri berangkat ke Rusia
-      Siapa yang akan menjadi Gubernur Jawa Barat?
f)       Hurup kapital digunakan pada awal unsur nama orang
Misal :
Moh Hatta, I Gusti Ngurahrai
g)      Huruf kapital digunakan pada awal kata nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa
Misal :
-      Daerah Jawa Barat umumnya dihuni oleh suaku Sunda
-      Di kota-kota besar banyak yang menggunakan bahasa Inggris
h)      Hurup kapital digunakan hurup pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misal :
-      Tahun Hijriyah pergantian tahunnya pada bulan Muharam
-      Orang Bali sedang merayakan hari Galungan.
i)        Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama pada nama geografi.
Misal :
Daerah Asia tenggara banyak tertular penyakit Sars.
j)        Huruf kapital digunakan sebagai hurup pertama semua unsur negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan
Misal :
-          Tono bekerja di Dinas Pendidikan bagian  Sarana dan Prasarana.
k)      Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama pada unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintahan
Misal :
-          Lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa
-          Rancangan Undang-undang Kepegawaian
l)        Hurup kapital digunakan pada hurup pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar.
Misal :
Kami disuruh membaca buku Salah Asuhan
m)    Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.
Misal :
Dr. doktor
M.A Master of arts
Tn. Tuan
Ny. Nyonya
Sdr. Saudara
n)      Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, saudara, adik dan paman yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misal :
“Kapan Bapak dan Ibu berangkat haji?” tanya siswa-siswanya. Kiriman saudara sudah kami terima
Hurup kapital tidak digunakan sebagai hurup pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misal :
Kita harus menghormati ibu dan bapak kita. 
o)      Hurup kapital digunakan sebagai hurup pertama kata ganti
Anda
Misal:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda sudah kami terima

3.3.5        Pemakaian Hurup Miring
a.       Hurup miring digunakan dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misal :
Anak-anak menyenangi majalah Kuncung dan Bobo 
b.      Hurup miring digunakan sebagai untuk menegaskan atau mengkhususkan hurup, bagian kata, atau kelompok kata.
Misal :
Bab ini tidak mengetengahkan pembelajaran kosakata.
c.       Hurup miring digunakan untuk menuliskan nama ilmiah, ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan dengan ejaan.
Misal :
Nama ilmiah buah manggis ialah Caricinia Mangostana.  

3.3.6        Penggunaan Tanda Baca
            Tanda baca dalam bahasa Indonesia menurut EYD ialah tanda titik (.), koma (,), tanda tanya (?), tanda titik dua (: ) , tanda hubung (-), tanda pisah (-), tanda elipsis (…), tanda seru (! ), tanda petik (“…”), tanda ulang ( -), tanda apostop/penyingkat (‘), tanda garis miring (/).
a.       Tanda titik ( .)
(a)    Tanda titik digunakan pada akhir kalimat
Misal :
Budiman pergi ke sekolah
(b)   Tanda titik digunakan dibelakang angka atau hurup dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar.
      Misal :
      II. landasan teori
          2.1  Pengertian Sastra
(c)    Tanda titik digunakan untuk memisahkan jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu
Misal :
Ia berangkat pukul 14.30.21
(d)   Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
4.15.10 jam (4 jam, 15 menit 10 detik)
(e)    Tanda titik digunakan diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit pada daftar pustaka
Misal :
Alwasilah, Drs. A. Cheader.1985 Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung.
(f)    Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misal :
Ia mempunyai uang 5.750.000 rupiah
Tanda bilangan tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah.
Misal :
Tini dilahirkan tahun 1990
Nomor teleponku 202122
(g)   Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dsb.
Misal :
Analisis Wacana Pragmatik
(h)   Tanda titik digunakan dibekalang (1) alamat pengiriman dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misal :
Yth. Sdr. Rudiansyah, S.Pd.
       Jalan Angkrek 20
       Sumedang 
b.      Tanda Koma (,)
(a)    Tanda koma digunakan diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misal :
Rina membeli sabun, parfum, dan pasta gigi.
(b)   Tanda koma digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului kata seperti tetapi atau melainkan.
Misal :
Itu bukan buku Yanti, melainkan kepunyaan Susi
(c)    Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimat.
Misal :
Karena sakit, Tono tidak masuk sekolah 
(d)   Tanda koma digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itu, lagi pula, meskipun begini, akan tetapi.
Misal :
Jadi, kamu yang jadi biang keroknya
(e)    Tanda koma digunakan diantara (1) nama dan alamat, (2) bagian-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4)  nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misal :
Sdr. Hamdan, jalan Angkrek 30, Sumedang
 Sumedang, 01 April 2003
(f)    Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung, dari bagian lain dalam kalimat
Misal :
Kata Ibu “kamu harus segera pulang.”
(g)    Tanda koma digunakan untuk memisahkan kata seperti O, ya, wah, aduh, kasihan dari kata-kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misal :
O, begitu?
(h)   Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunanya dalam dafatr pustaka.
Misal :
Lubis, A. Hamid Hasan, 1991, Analisis Wacana Pragmatik,  Angkasa.
(i)     Tanda koma digunakan diantara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misal :
W.J.S. Purwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang (Yogyakarta : UP  Indonesia, 1967), halaman 4.        
(j)     Tanda koma digunakan diantara nama orang dan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misal :
M.Santoso, S.Pd.
(k)   Tanda koma digunakan di muka angka persepuluhan atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka
Misal :
Rp. 17,85 
(l)     Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi
Misal :
Semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan mengikuti latihan degung. 
(m) Tanda koma digunakan untuk menghindari salah baca dibelakang keterangan  yang terdapat pada awal kalimat
Misal :
Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. 
(n)   Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misal :
“Dimana Saudara tinggal ?” tanya Yudi.
c.       Tanda Titik Koma (;)
(a)    Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
      Misal :
      Malam semakin larut; pekerjaan belum selesai juga.
(b)   Tanda titik koma digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara didalam kalimat majemuk.
    Misal :
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur;


  1. Tanda Titik Dua ( : )
(a)        Tanda titik dua tidak digunakan jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misal :
Fakultas itu mempunyai jurusan Bahasa Inggris, Ekonomi dan Sejarah. 
(b)       Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
Misal :
Ketua                  : Tono
Sekretaris            : Yani
Bendahara           :  Yuni
(c)        Tanda titik dua digunakan dalam teks drama.
Misal :
Ibu           : (duduk santai sambil nonton tv) “ambilkan kacamata !”
Andi        : “Baik, Bu.” (sambil membawa kacamata).
Ibu           : “Terimakasih, Di.” (sambil menerima kacamata).
(d)       Tanda titik dua digunakan (1) diantara jilid atau nomor dan halaman, (2) diantara bab dan ayat dalam kitab suci, (3) diantara judul dan anak judul suatu karangan, serta (4) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misal :
Karangan Sutomo, Pembinaan Bahasa Indonesia : sebuah kajian, sudah terbit

  1. Tanda Hubung ( - )
(a)        Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Misal :
Kita harus datang tepat pa-
da waktunya 
(b)       Tanda hubung digunakan untuk menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya atau akhiran dengan kata di depannya pada pergantian baris
Misal :
Senjata itu merupakan alat pertahan-
an yang canggih.
(c)        Tanda hubung digunakan untuk menyambungkan hurup kata yang di eja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misal :
k-e-t-u-a
11-04-2010
(d)       Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang
Misal :
Ibu-ibu itu sedang mengadakan arisan. 
(e)        Tanda hubung untuk memperjelas (1) hubungan bagian kata atau ungkapan dan (2) penghilang bagian kelompok kata.
Misal :
ber-evolusi, kesetiakawanan-sosial 
(f)        Tanda hubung digunakan untuk merangkai (1) se- dengan kata berikutnya yang dimulai hurup kapital, (2) ke- dengan angka, (3) angka dengan –an, (4) singkatan berhurup kapital dengan imbuhan atau kata, (3) nama jabatan rangkap.
Misal :
Perlombaan baca puisi Se-Kabupaten Sumedang  
(g)       Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing

  1. Tanda Pisah ( - - )
(a)        Tanda pisah digunakan untuk membatasi penyusupan kata atau kalimat yang memberi penjelasan diluar bangun kalimat.
Misal :
Kemerdekaan itu – saya yakin akan tercapai – diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri 
(b)       Tanda pisah digunakan untuk menegaskan keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi jelas.
(c)        Tanda pisah digunakan diantara dua bilangan atau tunggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’
Misal :
1942 – 1980
Tanggal 15 – 26 April 2003
Jakarta – Bandung 

  1. Tanda Elipsis ( … )
(a)        Tanda elipsis digunakan dalam kalimat yang terputus-putus
Misal :
-      Kalau begitu  … ya, marilah kita maju.
(b)       Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misal :
Sebab-sebab kemerostotan … akan diteliti ulang.

  1. Tanda Tanya ( ? )
(a)        Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.
Misal :
Siapa yang sakit ? 
(b)       Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya
Misal :
Ia lahir pada tahun 1950 (?)


  1. Tanda Seru ( ! )
Tanda seru digunakan setelah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosional yang kuat.
Misal :
Ambilah barang-barang itu !

  1. Tanda kurung ( ( … ) )
(a)        Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
(b)       Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misal :
Keterangan itu (lihat tabel 10) menunjukan arus perkembangan baru dalam pemasaran luar negeri
(c)        Tanda kurung mengapit hurup atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan
Misal :
Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Sumedang.
(d)       Tanda kurung mengapit angka atau hurup yang merinci satu urutan keterangan.
Misal :
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, (c) modal.

  1. Tanda Kurung siku  ( [ … ] )
(a)        Tanda kurung siku mengapit hurup, kata, atau kelompok kata sebagai koneksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli
Misal :
Sang Sapurba me [d]engar bunyi gemerisik.
(b)       Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung
Misal :
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya di bicarakan didalam Bab II [lihat halaman 35-38] tidakl dibicarakan) perlu dibentangkan disini.

  1. Tanda Petik ( “…” )
(a)        Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahkan tertulis lain.
Misal :
“Saya belum siap,” kata Mira, “Tunggu sebentar.” 
(b)       Tanda petik mengapit judul syair karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misal :
Bacalah puisi dengan judul “Aku” karya Khairil Anwar !
(c)        Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mengaandung arti khusus.
Gadis itu mengenakan celana “Cutbray”
(d)       Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misal :
Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
(e)        Tanda petik penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang digunakan dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Karena kelincahannya, Doni mendapat julukan “Si Genit”


 
  1. Tanda Petik tunggal ( ‘…’ )
(a)        Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misal :
Tanya Burhan “Kau dengar bunyi ‘Kring-kring’ tadi?”
(b)       Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misal :
feed-beek ‘balikan’

  1. Tanda Garis Miring ( / )
(a)        Tangda garis miring digunakan didalam nomor surat dan nomor pada alamat atau penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwin
Misal :
No. 7/04/2003
Tahun pelajaran 2009/2010
(b)       Tanda garis miring digunakan sebagai pengganti kata atau, tiap
Misal :
‘dikirim lewat darat/laut’

  1. Tanda Penyingkat atau Aprostop ( ` )
Tanda Aprostop digunakan untuk menunjukan penghilanganbagian kata atau bagian angka tahun.
Misal :
Ali `kan kusurata (`kan = akan)

3.4    Referensi dan Inferensi (Pengacuan dan perujukan)
(1)   referensi dan Inferensi (Pengacuan dan Perujukan)
Pengacuan adalah unsur yang kerap kali di ulang untuk menjelaskan arti (maksud) seperti unsur pelaku, penderita, pelengkap, dan perbuatan.
Mis al :
Widodo mau berabgkat kuliah  , wajahnya agak kusam, karena dia bangun kesiangan, lebih-le bih pagi itu akan ada ujian perbaikan nilai
Penjelasan :
Kata ganti nya, dia dalam kalimat itu referensi Widodo 
(2)   Inferensi
Inferensi merupakan proses yang harus di lakukan pembaca atau penyimak untuk memahami (menafsirkan) arti yang diinginkan penulis / pembaca (yang diinginkan penulis/ pembicara secara harfiah tidak terdapat dalam wacana.
Misal
“Wah, hausnya hari ini !”, kata Pak Dirman. Maksud Pak Dirman ia sebenarnya mau minum tetapi dalam tuturannya tidak diucapkan (inferensi).

3.5    Bahasa
Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan isi hati, cara penyampaian itu ada da cara yaitu dengan menggunakan bahasa lisan dan bahasa tulis.
Menurut ragamnya bahasa itu dibagi dua, yaitu bahasa baku dan bahasa nonbaku.
Bahasa buku (standar) merupakan bahasa yang telah dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai bahasa kerangka acuan atau rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Sedangkan bahasa non baku adalah yang tidak dilembagakan dan aturannya cara pemakaiannya menyimpang dari bahasa baku.
Ciri-ciri bahasa
  1. Kemantapan Dinamis (mantap)
Kemampuan dinamis artinya dengan bahasa yang berlaku 


  1. Cendekia
Cendekia artinya digunakan di tempat-tempat yang resmi. Bisa juga bahasa baku dalam dunia pendidikan.
  1. Seragam  
Pembakuan suatu bahasa itu merupakan menyeragamkan cara penulisan / pengucapan suatu kata / kalimat dalam suatu bahasa. 


 DAFTAR FUSTAKA

Prof. DR. HJ. T. Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur.

Prof. A. Hamid Hasan Lubis. 1991. Analisis Wacana Pragmatik

Udin Ganda Supriadi, Drs. M. Hum. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia.
 





KATA PENGANTAR


            Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
            Makalah yang mengambil judul “Wacana” semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Wacana sebagai dasar dalam pemahaman teks sangat diperlukan masyarakat bahasa dalam komunikasi dengan informasi yang utuh. Wacana juga merupakan bagian dari penyusunan buku teks Bahasa Indonesia disamping kosakata, sintaksis, menulis dan berbicara.
            Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penyusunan makalah ini disadari jauh dari kata sempurna. Tak ada gading yang tak retak, tegur sapa serta saran sangat kami harapkan.


Sumedang, Maret 2010
Penyusun,



         Kelompok 1









DAFTAR ISI


Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................
BAB I      PENDAHULUAN
BAB II    WACANA
2.1    Pengertian Wacana ..................................................................
2.2    Jenis Wacana ............................................................................
2.3    Realitas Wacana .......................................................................
2.4    Media Komunikasi ...................................................................
2.5    Pemaparan Wacana ..................................................................
BAB III   SUB POKOK WACANA
            Kalimat .....................................................................................................
            Paragraf......................................................................................................
                                Syarat-syarat Paragraf .....................................................................................
                                Pembagian Paragraf Menurut Jenisnya ...........................................................
                                Pembagian Paragraf Menurut Penerapan Pokok .............................................
                                Pembagian Paragraf Menurut Berdasarkan
            Penawaran .....................................................................  
            Ejaan .........................................................................................................
            Penulisan Huruf ........................................................................................
            Lafal, Singkatan dan Kata ........................................................................
            Pemenggalan (Penyukuan) Kata ...............................................................
            Pemakaian Hurup Kapital .........................................................................
            Pemakaian Hurup Miring ..........................................................................
            Penggunaan Tanda Baca ...........................................................................
            Referensi dan Inferensi .............................................................................
            Bahasa .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar